Perbedaan Jenis Asuransi Syariah Dan Konvesional

OkeKlik – Asuransi adalah suatu perjanjian antara perusahaan asuransi dengan tertanggung, yang menjadi dasar penerimaan premi oleh perusahaan asuransi.

Secara umum, asuransi dibagi menjadi dua jenis:

asuransi biasa dan asuransi syariah.

Salah satu perbedaan antara asuransi umum dan asuransi syariah terletak pada syarat akad atau akadnya. Kontrak asuransi biasa adalah kontrak ganti rugi asuransi yang dibuat oleh perusahaan asuransi dengan peserta asuransi. Sedangkan akad dalam asuransi syariah dikenal dengan akad hibah.

Menurut hukum Islam, kontrak ini berarti saling membantu atau mengambil risiko di antara para peserta. Sebelum kita lanjut membahas perbedaan asuransi syariah dan asuransi konvensional, mari kita pahami dulu apa itu asuransi syariah dan manfaatnya.

Pengertian Asuransi Syariah

Asuransi syariah merupakan upaya untuk saling melindungi dan saling membantu antar penanggung (peserta). Asuransi syariah dilakukan dengan menghimpun dan mengelola dana tabarru, yang memberikan model pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (komitmen) yang sesuai dengan prinsip syariah.

Dengan kata lain, asuransi syariah merupakan upaya saling tolong-menolong dan saling melindungi antar peserta yang pelaksanaan operasionalnya dan prinsip hukumnya sesuai dengan syariat Islam. Tanpa bermaksud mendendam, asuransi syariah dapat dipahami sebagai persiapan menghadapi risiko yang mungkin terjadi.

Di Indonesia, asuransi syariah telah dijamin kehalalannya oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Dewan Syariah Nasional (DSN) dengan Fatwa No. 10.21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah. Pada dasarnya, asuransi syariah menggunakan prinsip pembagian risiko. Risiko satu orang atau pihak ditanggung oleh semua orang/pihak yang diasuransikan.

Hal ini berbeda dengan asuransi konvensional yang menggunakan sistem transfer risiko dimana risiko dari tertanggung dialihkan kepada perusahaan asuransi. Dapat dikatakan bahwa peran perusahaan asuransi syariah adalah mengelola operasional dan investasi dengan sejumlah dana yang diterima dari pemegang polis. Sedangkan pada asuransi konvensional, perusahaan asuransi bertindak sebagai penerima risiko.

Akad yang digunakan dalam asuransi syariah adalah dengan menggunakan prinsip gotong royong antara penanggung dengan perwakilan/kerja sama penanggung dengan perusahaan asuransi syariah. Sedangkan akad yang digunakan oleh asuransi konvensional didasarkan pada prinsip tukar menukar (jual beli).

Manfaat Asuransi Syariah

  1. Pengelolaan Dana Dengan Prinsip Syariah Salah satu perbedaan antara asuransi umum dan syariah terletak pada pengelolaan dananya. Pengelolaan dana oleh perusahaan asuransi syariah harus sesuai dengan prinsip syariah. Misalnya, dana tersebut tidak dapat diinvestasikan pada saham emiten yang melakukan kegiatan perdagangan/jasa yang dilarang sesuai dengan prinsip Syariah.
  2. Transparansi pengelolaan dana pemegang polis. Pengelolaan dana oleh perusahaan asuransi syariah dilakukan secara transparan, baik dari sisi penggunaan premi maupun penjaminan surplus, serta distribusi pendapatan investasi. Pengelolaan dana tersebut ditujukan untuk mengoptimalkan keuntungan para pemegang polis, baik secara kolektif maupun individual.
  3. Bagi hasil dari pendapatan investasi Pendapatan investasi dapat dibagikan kepada pemegang polis (peserta), baik secara kolektif dan/atau individu, dan perusahaan asuransi syariah sesuai dengan akad yang digunakan. Hal ini berbeda dengan perusahaan asuransi biasa yang pendapatan investasinya dimiliki oleh perusahaan asuransi, kecuali untuk produk asuransi yang berkaitan dengan investasi.
  4. Kepemilikan dana. Dalam asuransi konvensional, semua premi yang masuk menjadi milik perusahaan asuransi, kecuali premi atas produk asuransi yang terkait dengan investasi, yang merupakan bagian dari premi yang ditujukan untuk pembentukan pemegang polis investasi/tabungan. Sedangkan dalam asuransi syariah, iuran (premi) sebagian dimiliki oleh perusahaan asuransi syariah sebagai pengelola dana, dan sebagian lagi dimiliki oleh pemegang polis secara bersama-sama atau sendiri-sendiri.
  5. Sistem “dana bakaran” tidak berlaku. Iuran (premi) yang disetorkan sebagai tabarru dalam asuransi syariah tidak dibatalkan meskipun tidak ada klaim selama masa perlindungan. Dana yang dibayarkan oleh tertanggung terus menumpuk di dana tabarru, yang dimiliki oleh tertanggung (peserta) secara kolektif.
  6. Terjadinya alokasi dan pembagian surplus underwriting Di bidang asuransi syariah dikenal istilah underwriting surplus, yaitu selisih dari total kontribusi tertanggung ke dana tabarru setelah ditambah dengan penggantian klaim dari reasuransi, dikurangi pembayaran penggantian/kerugian, premi reasuransi dan manfaat teknis untuk jangka waktu tertentu.

Pada asuransi konvensional, seluruh surplus underwriting ini sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan asuransi, namun dalam asuransi syariah, surplus underwriting tersebut dapat dibagikan kepada dana tabarru, penanggung yang memenuhi syarat, dan perusahaan asuransi sesuai dengan persentase yang ditentukan dalam polis.

Jenis produk asuransi syariah

Saat ini produk dari asuransi syariah sangat beragam. Berikut ini adalah produk asuransi syariah yang diterima secara luas:

  1. Asuransi Jiwa Syariah Perusahaan asuransi akan memberikan kepada ahli waris pembayaran asuransi berupa sejumlah uang pertanggungan apabila peserta asuransi meninggal dunia.
  2. Asuransi kesehatan syariah Asuransi yang akan memberikan santunan atau penggantian jika tertanggung sakit atau mengalami kecelakaan.
  3. Asuransi investasi syariah (unit link) Produk yang memberikan pembayaran asuransi dan manfaat pengembalian investasi. Sebagian dari premi yang dibayarkan untuk investasi ini didistribusikan ke dana tabarru dan sebagian lagi dibagikan sebagai investasi peserta.
  4. Asuransi kerugian syariah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada tertanggung sehubungan dengan hilangnya harta benda yang pencatatannya dilakukan.
  5. Asuransi Syariah Grup. Asuransi ini dirancang khusus untuk anggota kelompok seperti perusahaan, organisasi dan komunitas. Dengan jumlah peserta yang lebih besar, asuransi ini lebih murah dibandingkan asuransi syariah perorangan.
  6. Asuransi Haji dan Umroh

Asuransi ini memberikan perlindungan finansial bagi jemaah haji/umrah dari bencana yang terjadi selama ibadah haji/umrah. Khusus untuk asuransi haji diatur dalam Fatwa MUI No. 39/DSN-MUI/X/2002 tentang Asuransi Haji, agar jamaah haji mendapatkan ketenangan jiwa selama menunaikan ibadah haji.

Nah, itulah penjelasan tentang apa itu asuransi syariah, kelebihan dan perbedaannya dengan asuransi konvensional. Baik asuransi konvensional maupun asuransi syariah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Memastikan bahwa pilihan produk asuransi dikembalikan kepada konsumen sesuai dengan kebutuhan dan peluang individu.