Jakarta, Okeklik.com — Tim astronom internasional menemukan bukti baru mengenai masa lalu Tata Surya yang terbilang kelam. Bintang induk kita, Matahari, diduga kuat pernah memangsa sebuah planet raksasa berjenis Super-Earth pada masa awal pembentukannya.
Studi terbaru yang dipimpin oleh Prof. Mutlu Yildiz dari Ege University, Turki, mengindikasikan bahwa Tata Surya dahulu memiliki planet kesembilan dengan massa lima hingga 10 kali lebih besar dari Bumi. Planet teoretis tersebut akhirnya tertarik oleh gravitasi kuat Matahari dan hancur tertelan.
Hasil riset ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Monthly Notices of the Royal Astronomical Society.
Petunjuk dari Misteri Hilangnya Lithium
Penelitian ini bermula dari ditemukannya ketidaksesuaian antara model evolusi Matahari dan data observasi terkini. Para ilmuwan mengidentifikasi dua petunjuk utama: pergeseran halus pada struktur internal Matahari serta kejanggalan pada tingkat kandungan unsur lithium di permukaannya.
Matahari tercatat kehilangan jauh lebih banyak lithium dibandingkan dengan prediksi teoretis para ahli.
Berdasarkan simulasi dampak pertumbuhan lapisan luar Bintang, tabrakan akibat penelanan planet Super-Earth terbukti mendesak sebagian besar elemen lithium masuk ke lapisan Matahari yang lebih dalam. Di area yang sangat panas tersebut, lithium musnah dengan tempo yang jauh lebih cepat.
”Dampak dari penelanan planet tersebut mendorong mayoritas elemen lithium ke dalam lapisan yang lebih dalam, tempat elemen itu hancur lebih cepat,” tulis laporan penelitian tersebut, sebagaimana dikutip dari BGR.
Menjawab Teka-Teki Keberadaan Super-Earth
Temuan ini memberikan jawaban atas teka-teki astronomi yang telah membingungkan para peneliti selama bertahun-tahun. Di berbagai sistem bintang lain di galaksi Bimasakti, planet berukuran Super-Earth sangat lazim ditemukan. Namun, Tata Surya kita justru menjadi pengecualian karena tidak memiliki planet jenis tersebut.
Meski demikian, para peneliti menggarisbawahi bahwa kesimpulan ini masih berpatokan pada model komputasi teoretis. Pembuktian secara mutlak masih memerlukan teknologi masa depan yang mampu merekonstruksi peristiwa miliaran tahun lalu secara lebih terperinci.





Tinggalkan Balasan