Citra “kota mati” di sudut-sudut Tel Aviv yang beredar di media sosial seolah merobek narasi resmi pemerintah Israel. Di balik gertakan Donald Trump dan ancaman blokade Selat Hormuz oleh Iran, ada perang informasi yang tak kalah sengit dari hujan rudal.

​Sejarah perang selalu ditulis oleh pemenang, namun di era digital, narasi perang seringkali coba dikunci rapat oleh mereka yang merasa terpojok. Kabar yang berhembus dari Tel Aviv pada pertengahan Maret 2026 ini membawa aroma yang familiar: sensor informasi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini dituding tengah berupaya keras membatasi publikasi tingkat kerusakan di dalam negerinya pasca-serangan balasan Iran.

​Namun, lubang dalam bendungan informasi itu mulai bocor. Foto-foto satelit dan amatir yang beredar memperlihatkan wajah Tel Aviv yang tak lagi pongah. Jalanan yang lengang, puing-puing bangunan yang runtuh, dan sudut kota yang menyerupai kota hantu menjadi bukti bahwa perisai pertahanan udara—yang selama ini dianggap tak tertembus—mulai kewalahan menghadapi intensitas serangan Teheran.

Politik Sensor Netanyahu

​Kebijakan Netanyahu untuk “menertibkan” media dan pejabatnya bukanlah hal mengejutkan. Dalam politik domestik Israel yang kian terpolarisasi, pengakuan atas kerentanan adalah bunuh diri politik. Jika publik melihat secara gamblang betapa parahnya kerusakan di jantung ekonomi mereka, legitimasi Netanyahu dalam melanjutkan perang ini akan runtuh di bawah tekanan demonstrasi warga yang menuntut keamanan nyata, bukan sekadar janji serangan balasan.

​Namun, upaya menyembunyikan realitas fisik di era media sosial adalah upaya sia-sia. Ketika gedung-gedung di Tel Aviv rontok, kepercayaan publik pun ikut retak. Sensor ini justru mempertegas kesan bahwa Israel tengah menghadapi situasi yang jauh lebih gawat dari apa yang diakui secara resmi.

Trump dan Ilusi Akhir Perang

​Di sisi lain samudera, Presiden Donald Trump dengan gaya khasnya melempar optimisme yang dibumbui ancaman. Pernyataannya pada 10 Maret lalu bahwa perang akan “segera berakhir” tampak seperti upaya menenangkan pasar global yang tengah meriang. Harga minyak mentah Brent Crude yang menembus 119 dolar AS per barel adalah alarm merah bagi ekonomi Amerika.

​Bagi Trump, perang ini adalah gangguan terhadap neraca perdagangan. Namun, ancamannya untuk membalas Iran “jauh lebih keras” jika Selat Hormuz ditutup adalah perjudian besar. Washington seolah lupa bahwa dalam perang asimetris, pihak yang paling berani menderita biasanya yang memegang kendali.

Kedaulatan di Tangan IRGC?

​Respon Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran terhadap klaim Trump sangat jelas dan menohok: “Kamilah yang akan menentukan bagaimana perang ini berakhir.” Ini bukan sekadar retorika. Dengan posisi geografis yang mampu mencekik pasokan minyak dunia, Teheran memiliki kartu truf yang tidak dimiliki Washington maupun Tel Aviv.

​Ancaman IRGC untuk tidak mengizinkan “satu liter pun minyak” keluar dari kawasan jika serangan terus berlanjut adalah bentuk teror ekonomi yang efektif. Mereka sadar bahwa dunia lebih takut pada harga bensin yang meroket daripada runtuhnya gedung-gedung di Timur Tengah.

Kesimpulan

​Dunia kini terjepit di antara dua narasi besar. Di satu sisi, ada Israel yang mencoba menutupi luka-lukanya demi martabat nasional. Di sisi lain, ada Iran yang merasa telah menemukan momentum untuk mengubah peta kekuatan kawasan.

​Jika eskalasi ini tidak diredam oleh diplomasi yang jujur—bukan sekadar gertakan di media sosial—maka “kota mati” yang terlihat di Tel Aviv mungkin hanya pratinjau dari krisis regional yang jauh lebih gelap. Perang ini tidak akan selesai hanya karena seorang Presiden di Washington mengatakannya, melainkan ketika realitas di lapangan memaksa semua pihak untuk berhenti saling menghancurkan sebelum tak ada lagi yang tersisa untuk diperintah.