Jakarta – Situasi di Timur Tengah kembali memanas secara mendadak. Iran memutuskan untuk menutup kembali jalur pelayaran strategis Selat Hormuz pada Rabu (8/4/2026) pagi waktu setempat.
Langkah drastis ini diambil Teheran usai militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Lebanon. Iran menganggap aksi tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang baru saja disepakati.
”Setelah pelanggaran terus-menerus terhadap gencatan senjata sementara oleh tentara rezim Zionis terhadap Lebanon, Iran sedang menyelesaikan rencana untuk melakukan operasi pencegahan,” lapor kantor berita Iran, Fars News, mengutip sumber keamanan setempat.
Tuding Israel Langgar Janji
Iran mengeklaim bahwa poin-poin gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan seharusnya juga menghentikan serangan ke Lebanon. Namun, pihak Tel Aviv justru membantah hal tersebut.
Israel bersikeras bahwa wilayah Lebanon tidak masuk dalam radar kesepakatan gencatan senjata yang direncanakan berlangsung selama dua pekan itu. Perbedaan persepsi inilah yang memicu kemarahan besar di Teheran.
Restu Mojtaba Khamenei
Sebelumnya, suasana sempat mereda. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran bahkan sudah mengonfirmasi kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS).
Kesepakatan ini disebut telah direstui oleh Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei. Bahkan, sebagai tanda perdamaian awal, dua kapal tanker sempat diizinkan melintasi Selat Hormuz oleh otoritas Iran.
Gedung Putih Sempat Membantah
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan setuju dengan gencatan senjata setelah menerima 10 poin syarat dari Iran.
Namun, Gedung Putih kemudian memberikan pernyataan yang berlawanan. Mereka membantah telah menerima semua poin tuntutan Iran untuk mencapai kesepakatan tersebut.
Kini, dengan ditutupnya kembali Selat Hormuz, dunia kembali waswas. Jalur logistik minyak global terancam lumpuh total di tengah ketegangan yang kian tak terkendali antara Teheran dan Tel Aviv.





Tinggalkan Balasan