NEW YORK – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan sikap tegas menentang serangan militer yang menyasar ladang gas South Pars dan berbagai infrastruktur energi vital di Iran. Pernyataan ini muncul menyusul laporan eskalasi serangan udara yang dilakukan oleh pasukan Israel dan Amerika Serikat (AS).

​Wakil Juru Bicara PBB, Farhan Haq, menegaskan bahwa segala bentuk perusakan terhadap fasilitas energi non-militer adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.

​”Ya, kami menentang semua serangan semacam itu,” ujar Haq dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, Rabu, 18 Maret 2026. Ia mendesak seluruh pihak yang bertikai untuk menahan diri dan menghindari sasaran non-militer guna mencegah krisis kemanusiaan dan ekonomi yang lebih luas.

​Infrastruktur Energi Asaluyeh Membara

​Berdasarkan laporan kantor berita Tasnim, serangan udara yang dilancarkan Israel dan AS menghantam ladang gas terbesar di Iran serta zona industri Asaluyeh, yang merupakan pusat pemrosesan gas strategis.

​Sejumlah saksi mata dan laporan lapangan menyebutkan:

  • Kebakaran Hebat: Api membubung tinggi di kawasan Asaluyeh setelah tangki penyimpanan gas terkena hantaman rudal.
  • Kerusakan Fasilitas: Fasilitas pengolahan gas dilaporkan mengalami kerusakan signifikan, yang mengancam pasokan energi regional.

​Eskalasi Sejak Februari dan Gugurnya Khamenei

​Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari operasi militer besar-besaran yang dimulai pada 28 Februari lalu. Saat itu, AS dan Israel membombardir sejumlah titik di Iran, termasuk ibu kota Teheran, dengan dalih “serangan pendahuluan” untuk melumpuhkan program nuklir Iran.

​Namun, narasi tersebut bergeser. Washington dan Tel Aviv belakangan secara terbuka menyatakan bahwa operasi ini bertujuan untuk melakukan perubahan rezim di Teheran.

​Titik nadir konflik ini terjadi pada hari pertama operasi, di mana Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinyatakan gugur. Kematian Khamenei memicu gelombang kemarahan di Teheran, yang dibalas dengan serangan balik Iran terhadap aset-aset militer AS di Timur Tengah dan wilayah Israel.

​Reaksi Internasional: Kecaman dari Moskow

​Pembunuhan pemimpin tertinggi Iran tersebut memancing reaksi keras dari dunia internasional, terutama Rusia. Presiden Vladimir Putin menyebut tindakan tersebut sebagai “pelanggaran hukum internasional yang sangat sinis.”

​Sejalan dengan Putin, Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak agar AS dan Israel segera menghentikan permusuhan. Moskow memperingatkan bahwa penghancuran infrastruktur energi hanya akan memperburuk stabilitas global.

​Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar South Pars masih mencekam dengan upaya pemadaman api yang terus dilakukan di tengah bayang-bayang serangan susulan.

Sumber: Sputnik / RIA Novosti