Pangandaran – Nasib pilu dialami Agus Hidayat (37), seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Bukannya untung, ia justru terjebak dalam sindikat online scam di Kamboja dan kini memohon bantuan agar bisa pulang ke tanah air.
Agus merupakan warga Dusun Ciawitali, Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang. Melalui pesan singkat WhatsApp, ia mengaku nyawanya terancam karena bekerja di bawah tekanan dan siksaan.
”Pak, saya warga Pangandaran, Kalipucang. Mohon bantuan ingin pulang ke kampung, tidak punya uang buat beli tiket. Saya di Kamboja gara-gara agen tak bertanggung jawab,” tulis Agus dalam pesan singkatnya, Jumat (10/4/2026).
Dijanjikan Gaji Rp 16 Juta, Malah Jadi Tukang Tipu
Agus bercerita awal mula dirinya tergiur berangkat ke Kamboja. Saat itu, agen menjanjikan posisi sebagai Marketing dengan gaji menggiurkan, yakni Rp 16 juta per bulan.
Namun setibanya di sana, zonk! Agus justru dipaksa bekerja sebagai operator scam love di sebuah platform. Tak hanya itu, selama bekerja ia mengaku sering disiksa.
”Kerja juga dipaksa, kadang mendapat siksaan,” kata Agus lirih.
Ironisnya, selama bekerja Agus mengaku tidak dibayar sama sekali. Ia kini tertahan di sebuah penampungan selama tiga bulan terakhir tanpa bisa pergi ke mana-mana.
KBRI Bantu Dokumen, Tiket Harus Beli Sendiri
Agus mengaku sudah melaporkan kondisinya ke KBRI setempat. Namun, pihak kedutaan hanya bisa membantu memfasilitasi pengurusan paspor dan visa.
”Sudah lapor ke KBRI, tapi cuma diuruskan paspor dan visa. Tiket pulang harus beli sendiri, makanya saya tinggal di penampungan,” tambahnya.
Respons Disnaker Pangandaran
Merespons kabar warganya yang terlantar, Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Pangandaran mulai bergerak. Kadisnaker Pangandaran, Dedi Surachman, menyebut pihaknya sedang melakukan koordinasi.
Namun, Dedi meminta pihak keluarga untuk segera membuat laporan resmi agar proses tindak lanjut bisa berjalan secara legal.
”Kami menunggu dari pihak keluarga yang bersangkutan untuk membuat laporan terlebih dahulu ke kantor kami,” singkat Dedi.





Tinggalkan Balasan