OPINI – Di tengah dentuman rudal yang membelah langit Teheran dan Tel Aviv, sebuah video berdurasi singkat muncul menjadi amunisi baru dalam perang informasi. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tampil di layar untuk menegaskan bahwa ia masih memegang kendali. Namun, alih-alih meredam spekulasi, video tersebut justru melahirkan horor digital: tangan kanan sang Perdana Menteri tampak memiliki enam jari.
Dalam dunia teknologi, “jari keenam” adalah noktah hitam klasik bagi algoritma Artificial Intelligence (AI) yang gagal melakukan rendering anatomi manusia dengan sempurna. Namun dalam diskursus politik Timur Tengah yang sedang membara, anomali fisik ini berubah menjadi metafora atas krisis kepercayaan yang akut. Publik dunia kini bertanya: Apakah kita sedang melihat seorang pemimpin yang hidup, atau sekadar piksel yang disusun ulang oleh mesin untuk menutupi sebuah kekosongan kekuasaan?
Klaim media Iran, Tasnim News Agency, yang menyebut Netanyahu tewas diterjang rudal memang harus dikunyah dengan hati-hati. Iran punya kepentingan besar dalam perang urat syaraf. Namun, respons Tel Aviv yang justru merilis video dengan aroma “deepfake” yang kental adalah sebuah blunder komunikasi yang amatir—atau mungkin, sebuah langkah keputusasaan.
Sejarah mencatat bahwa dalam masa perang, transparansi seringkali menjadi korban pertama. Namun, di era di mana kecerdasan buatan mampu menciptakan realitas alternatif, menyuguhkan video yang cacat secara visual kepada publik global adalah tindakan yang meremehkan inteligensi warga dunia. Jika Netanyahu memang sehat walafiat, mengapa ia tidak muncul dalam konferensi pers langsung di hadapan jurnalis internasional? Mengapa putra mahkotanya, Yair Netanyahu, mendadak membisu di media sosial sejak 9 Maret?
Pembelaan dari Grok—chatbot milik Elon Musk—yang menyebut itu sebagai “ilusi optik” hanyalah apologi teknologi yang tidak menyentuh substansi. Masalahnya bukan lagi pada sudut pandang kamera, melainkan pada absennya bukti fisik yang tak terbantahkan. Keheningan Gedung Putih yang dikabarkan mengalami “kepanikan massal” kian mempertebal kabut misteri ini.
Jika benar video itu adalah produk AI untuk menutupi kematian atau ketidakberdayaan Netanyahu, maka Israel sedang bermain api dengan kredibilitasnya sendiri. Memimpin negara di tengah perang hari ke-15 dengan sosok “hantu digital” hanya akan meruntuhkan moral prajurit di lapangan dan kepercayaan publik di dalam negeri.
Pemerintah Israel harus sadar bahwa satu penampakan fisik Netanyahu yang otentik jauh lebih berharga daripada seribu video simulasi. Sebelum misteri jari keenam ini terjawab secara faktual, publik berhak berasumsi bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan di balik tembok beton bunker di Tel Aviv.
Di era pasca-kebenaran (post-truth), kejujuran bukan lagi sekadar pilihan moral, melainkan syarat mutlak untuk menjaga stabilitas. Jangan sampai “Bibi” hanya menjadi legenda digital yang jarinya terus bertambah di setiap unggahan terbaru.





Tinggalkan Balasan