WASHINGTON DC, OKEKLIK.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal kuat untuk segera mengakhiri operasi militer besar-besaran di Iran. Melalui unggahan di media sosial Truth Social pada Jumat malam, 20 Maret 2026, Trump mengeklaim bahwa Washington telah berada di ambang pencapaian target strategisnya dalam konflik yang mengguncang kawasan Timur Tengah tersebut.

​”Kami sudah sangat dekat untuk memenuhi target kami saat kami mempertimbangkan untuk menyudahi upaya militer besar kami di Timur Tengah terkait Iran,” tulis Trump.

Empat Capaian Strategis Washington

​Berdasarkan laporan Wall Street Journal, pemerintahan Trump menetapkan empat parameter utama sebagai indikator keberhasilan operasi militer sebelum penarikan pasukan dilakukan. Keempat target tersebut meliputi:

  1. Demiliterisasi Rudal: Melumpuhkan total kemampuan balistik dan rudal jarak jauh Iran.
  2. Netralisasi Kekuatan Udara & Laut: Melenyapkan aset angkatan laut, angkatan udara, serta sistem pertahanan antipesawat Teheran.
  3. Hambatan Nuklir: Memastikan Iran tidak memiliki celah sedikit pun untuk melanjutkan pengembangan kemampuan nuklir.
  4. Perlindungan Sekutu: Menjamin stabilitas keamanan bagi negara-negara mitra seperti Israel, Arab Saudi, Qatar, UEA, Bahrain, dan Kuwait.

Dampak Kemanusiaan dan Guncangan Ekonomi

​Konflik yang bermula dari serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari lalu ini telah mengubah peta geopolitik secara drastis. Gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu eskalasi yang merembet ke sektor ekonomi global.

​Penutupan Selat Hormuz oleh Teheran sebagai bentuk balasan telah menghentikan distribusi 20 persen pasokan energi dunia. Akibatnya, harga minyak mentah melambung tinggi dan memicu inflasi di berbagai negara. Di sisi kemanusiaan, perang ini dilaporkan telah menelan lebih dari 1.000 korban jiwa, termasuk warga sipil dan anak-anak.

Nasib Selat Hormuz Pasca-Konflik

​Terkait keamanan jalur pelayaran internasional tersebut, Trump menegaskan posisi isolasionisnya. Ia menyatakan bahwa tanggung jawab penjagaan Selat Hormuz ke depannya tidak lagi berada di pundak Amerika Serikat secara tunggal.

​”Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, jika perlu, oleh negara-negara lain yang menggunakannya. AS tidak (menggunakannya),” papar Trump dalam keterangannya.

​Meski demikian, Washington tetap membuka pintu untuk bantuan teknis maupun pengamanan jika ada permintaan resmi dari komunitas internasional. Namun, Trump optimistis bantuan tersebut tidak akan diperlukan lagi jika ancaman dari Teheran dianggap telah sepenuhnya “diberantas.”

​Hingga berita ini diturunkan, pihak militer AS (Pentagon) belum merinci jadwal pasti penarikan pasukan atau transisi komando pengamanan di kawasan Teluk.