PANGANDARAN, OKEKLIK.com– Upaya pencarian melelahkan terhadap Muhammad Lutfi (14), pelajar asal Desa Babakan yang hilang terseret arus di Pantai Timur Pangandaran, akhirnya membuahkan hasil. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat malam, 27 Maret 2026.

​Penemuan ini menjadi akhir tragis dari upaya penyelamatan heroik yang dilakukan Lutfi terhadap adiknya, Muhammed Hairan Azam (11), pada pagi harinya. Isak tangis keluarga dan warga pecah saat tubuh remaja tersebut dievakuasi ke atas perahu nelayan di tengah kegelapan malam.

Siasat Jaring di Zona Terlarang

​Keberhasilan penemuan korban tak lepas dari strategi tim SAR gabungan dan warga nelayan setempat. Ketua SAR Barakuda Pangandaran, Sakio, bersama timnya memutuskan untuk menggunakan metode pemasangan jaring di area dalam kawasan dermaga Cileutik.

​”Korban laka laut di Pantai Timur kawasan PPI Cikidang alhamdulillah sudah ditemukan melalui pemasangan jaring oleh warga nelayan dan sekitarnya,” ujar perwakilan tim SAR dalam laporannya dari lokasi kejadian.

​Penyisiran di dasar laut dilakukan karena adanya kekhawatiran tubuh korban tertahan oleh struktur bangunan dermaga atau palung di area tersebut. Setelah beberapa jam jaring terpasang, tubuh Lutfi akhirnya tersangkut dan segera dievakuasi oleh para penyelam dan nelayan yang berjaga.

Satu Keluarga, Satu Duka

​Kepala Desa Babakan, Undang Herdi, sebelumnya mengonfirmasi bahwa seluruh korban dalam insiden ini merupakan satu keluarga besar warga Desa Babakan. Peristiwa bermula saat Hairan Azam terseret arus saat bermain bola di bibir pantai.

​Lutfi, yang berniat menolong sang adik, justru terjebak arus balik yang sangat kuat di zona non-wisata tersebut. Meskipun Hairan Azam berhasil diselamatkan oleh kerabat lainnya bernama Yudit, Lutfi hilang ditelan ombak dalam hitungan detik.

Evaluasi Keamanan Pesisir

​Kapolres Pangandaran, AKBP Ikrar Potawari, yang memantau langsung proses pencarian sejak pagi, menegaskan bahwa lokasi di belakang Akuarium Indonesia ini bukanlah zona aman untuk berenang. Karakteristik arus bawah di PPI Cikidang dikenal ganas dan tidak masuk dalam jangkauan pengamanan rutin petugas Balawista.

​”Kami memohon kepada masyarakat untuk mematuhi rambu-rambu dan hanya berenang di zona wisata yang telah disiapkan pemerintah daerah,” tegas AKBP Ikrar.

​Jenazah Muhammad Lutfi segera dievakuasi menuju dermaga PPI Cikidang sebelum diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman. Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi warga Pangandaran akan bahaya tersembunyi di balik tenangnya permukaan air Cileutik.