Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, merespons polemik dan isu miring yang menyebutkan bahwa anak-anak di panti asuhan tidak mendapatkan manfaat dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Tudingan yang beredar luas di media sosial itu mengaitkan ketidakikutsertaan anak panti asuhan dengan ketiadaan orang tua yang bisa menyumbang suara pada pemilihan umum (pemilu). Menanggapi hal ini, Sudaryono secara tegas menepis narasi tersebut dan membeberkan mekanisme penyaluran yang sebenarnya.
Viral Narasi MBG Dikaitkan dengan Suara Pemilu
Polemik ini bermula dari sebuah unggahan video kontroversial di media sosial Instagram yang memicu perdebatan publik. Dalam video tersebut, terdapat klaim yang menyudutkan penyaluran program prioritas pemerintah ini.
“Kenapa panti asuhan tidak dapat MBG? Soalnya mereka enggak punya orang tua, jadi enggak ada suara yang bisa diambil saat pemilu,” tulis keterangan dalam video yang diunggah oleh akun @syamsulaco pada Jumat (9/10/2026).
Unggahan provokatif tersebut dengan cepat menyedot perhatian warganet. Hingga berita ini diturunkan, video tersebut telah viral dan diputar lebih dari 5,8 juta kali penayangan.
Bantahan BGN: Makanan Disalurkan Lewat Sekolah
Menyadari opini publik yang mulai liar, Kepala BGN yang akrab disapa Mas Dar ini langsung turun tangan meluruskan kesalahpahaman. Melalui kolom komentar di unggahan tersebut pada Sabtu (10/10/2026), ia menegaskan bahwa hak anak-anak panti asuhan tidak pernah diabaikan.
Sudaryono menjelaskan bahwa penyaluran makanan bergizi bagi anak-anak panti asuhan yang sudah menempuh pendidikan tetap dilakukan, namun terpusat melalui institusi sekolah mereka masing-masing.
“Diberikan MBG di tempat mereka bersekolah, Bang. Ada mekanisme dan regulasinya. Mohon dukungan selalu,” tulis Sudaryono memberikan klarifikasi sembari meminta dukungan agar program ini bisa berjalan dengan lancar.
Distribusi untuk Balita Terpusat di Posyandu
Selain meluruskan hak anak panti asuhan yang bersekolah, Sudaryono juga merinci mekanisme pembagian MBG untuk penerima manfaat kategori balita. Ia memastikan bahwa program ini menjangkau seluruh lapisan usia sasaran dengan memanfaatkan fasilitas kesehatan di tingkat akar rumput.
Penyaluran gizi untuk balita, termasuk mereka yang mungkin tidak terjangkau lewat jalur sekolah, akan dimaksimalkan melalui posyandu di wilayah masing-masing.
“Untuk balita juga disalurkan melalui channel-channel MBG yaitu posyandu, yang juga merupakan salah satu saluran distribusi program,” pungkasnya.





Tinggalkan Balasan